
CANGKANG KELAPA SAWIT LEBIH RAMAH LINGKUNGAN DARIPADA BATU BARA
Dalam industri sebuah pabrik makanan atau snack, sebuah boiler merupakan jantung dari industri tersebut baik untuk proses pengeringan, UHT maupun untuk filling. Contohnya Mayora Group, OT bahkan perusahaan makanan ternak seperti charoen pokphand indonesia, sido agung, japfa comfeed juga menggunakan boiler untuk bahan baku cangkang sawit. Palm Kernel Shells (PKS) atau cangkang sawit, suatu biomassa murni dengan nilai kalori tinggi (4000-6000 Kcal / kg) yang hampir setara dengan batu bara.

Potensi Cangkang Sawit untuk menggantikan Batu bara di Boiler sangatlah besar untuk menjadi bahan bakar utama karena dari fly ash yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan batu bara dan juga penurunan kinerja dari peralatan-peralatan pada boiler seperti screw, ID fan, FD fan. Penurunan Frekuensi dari screw mencapai 3 hz penurunan frekuensi ID dan FD mencapai 2 hz. dikarenakan kesempurnaan cangkang kelapa sawit terbakar lebih tinggi daripada batu bara dalam furnance dan juga tidak menimbulkan bottom ash pada furnance. Pada Temperatur pembakaran furnance juga lebih stabil antara 7500 C hingga 9000 C, sehingga pada flow steam yang berubah-ubah pada penggunaan boiler tidak terjadi drop steam saat proses produksi. Maka dari itu jama sekarang sebuah perusahaan industri banyak yang mengganti boiler dari batu bara ke cangkang sawit, disamping karena yang disebutkan di atas, peraturan pemerintah daerahpun sangat mempengaruhi soal dampak polusi udara yang begitu kecil dibandingkan batu bara.



